Berakar pada Pelanggaran Akhlaq
Terdapat pelanggaran akhlaq yang sangat mendasar dalam hubungannya memperlakukan ajaran Islam,
1. Tidak mau menjadikan Al-Kitab Al-Qur'an sebagai ukuran/timbangan. Tidak mau kebahagiaan, kemenangan, kejayaan, kemajuan dan keberhasilannya dan sebaliknya diukur dengan ukuran dari Allah yaitu Al-Kitab Al-Qur'an al-karim.
2. Bukan hanya tidak menjadikan Al-Kitab Al-Qur'an sebagai ukuran/timbangan, bahkan Al-Kitab Al-Qur'an diukur/ditimbang. Mengikuti ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia sekalipun orangnya adalah penekun kitab suci, kemudian dipegangi dan diikuti dengan setia bahkan fanatic sehingga segala sesuatu diukur dengannya. Dengan ajaran, faham, keberagamaan atau ideology beserta berbagai aliran dan madzhabnya yang dibangun inilah kemudian Al-Kitab Al-Qur'an diukur.
Kezhaliman Diri
Akibat dari pelanggaran yang radikal terhadap akhlaq ini adalah umat yang mengaku berkitabsucikan Taurat, berkitabsucikan Injil maupun berkitabsucikan Al-Qur'an menjadi umat-umat yang lebih bersemangat merujuk pada ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia daripada mendengar, membaca, memahami kemudian mentaati Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.
Waspadalah terhadap radikalisme pelanggaran akhlaq kepada Allah dan Al-Kitab-Nya itu
Terhadap pengaruh, pengarahan, tekanan dan pemaksaan untuk menyekutukan Allah atau menyimpang dari ajaran Islam yang tak ada pengetahuan untuk pertanggungjawaban di hadapan Allah maka seseorang muslim diperintahkan Allah untuk mengikuti jalan orang yang kembali kepada Allah. Dalam hal mengikuti jalannya orang yang kembali kepada Allah ini bukanlah untuk melestarikan berkitabsucikan Al-Qur'an tetapi lebih bersemangat merujuk ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia daripada mendengar, membaca, memahami kemudian mentaati Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31/Luqmaan : 15)
Dalam hal mengikuti jalannya orang yang kembali kepada Allah ini bukanlah untuk melestarikan kezhaliman diri bahwa yang mengikuti Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah ditundukkan kepada mengikuti jalan fikiran dan jalan perasaan manusia.
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS.9/At-Taubah : 26)