Sabtu, 05 April 2014

Tujuan Demokrasi

Demokrasi

Apa itu demokrasi? Jawaban yang tepat adalah kata perencana yang mendalangi penduduk bumi menjadi penganut ajaran demokrasi menggantikan semua ajaran hidup yang telah dianut sebelumnya. Dasar yang dengan peletakannya penduduk bumi mabok & kecanduan demokrasi hingga pada perkembangannya yang terjadi saat ini adalah Revolusi Besar Perancis. Mengapa revolusi itu diperistiwakan? Dalam protokol si dalang dipiagamkan diantaranya sebagai berikut :

Kita (Otak Zionis Yahudi) telah demonstrasikan bahwa kemajuan itu akan membawa semua orang Goyim (non-Yahudi) kepada kedaulatan akal hawa nafsu (sovereignty of reason). Despotisme (kesewenang-wenangan bersimaharajalela)-nya kita akan persis itulah adanya, karena ia kan tahu bagaimana dengan kekejaman bijak ini ia akan menenangkan semua keresahan dan mengcauter hangus  liberalsme keluar dari seluruh lembaga.

Catatan Editor Terjemah
(Cauter  : menyelomot lapisan pada permukaan bagian tubuh dengan bahan pembakar atau besi panas untuk merusak infeksi atau menghentikan perdarahan)

Ketika massa rakyat telah melihat bahwa segala macam konsesi dan pemanjaan itu telah diberikan kepada mereka atas nama kebebasan ( freedom ), maka massa rakyat itu telah mengimajinasikan dirinya adalah penguasa berdaulat dan meretas jalannya  sendiri menuju ke kekuasaan. Akan tetapi, secara alami, sebagaimana halnya setiap orang buta, massa rakyat itu terbentur banyak sekali rintangan, sehingga mereka merangsek untuk mendapatkan pemandu. Mereka tidak lagi pernah punya keinginan untuk kembali kepada keadaan sebelumnya, dan mereka telah menyerahkan kekuatan-kekuatan berkuasa penuh mereka di bawah kaki-kaki kita. Ingat saja Revolusi Besar Perancis, di mana kitalah yang memberikan nama "Besar" itu, ialah : Rahasia-rahasia untuk mempersiapkan Revolusi Besar itu kita ketahui sangat jelas, karena (latar belakang peristiwa itu) seluruhnya adalah kerja tangan-tangan kita sendiri. Sejak saat itu kita yang memimpin rakyat-rakyat itu dari satu kekecewaan ke kekecewaan-kekecewaan lainnya, sehingga pada akhirnya mereka beralih fihak kepada kita, demi Si Raja Despot (Kejam Sewenang-wenang) dari darah Zion, yang sedang kita siapkan untuk dunia ini.
Baca di : http://www.biblebelievers.org.au/przion2.htm#PROTOCOL No. 3

Tujuan Demokrasi

Menurut dalang dibuatnya ajaran demokrasi, salah satu tujuan antara (untuk menuju tujuan puncak / ultimate goal)-nya adalah yang diprotokolkannya sebagai berikut :

Kebebasan politik adalah ide tetapi bukan fakta. Ide ini orang harus tahu bagaimana menerapkan saatnya ide itu penting untuk tampil (yaitu) dengan umpan suatu ide untuk menarik massa orang banyak kepada partai seseorang dengan satu tujuan menghancurkan orang lain yang ada dalam kekuasaan. Tugas ini diberikan akan lebih mudah jika oposisi dengan sendirinya telah terinfeksi ide kebebasan, yang dijuluki-liberalisme, dan demi kepentingan suatu ide, akan bersedia untuk menyerahkan beberapa kekuasaannya. Justru di sini bahwa kemenangan teori kita muncul : kendali pemerintah berkurang menjadi kendor dengan segera, demi hukum alam kehidupan,  (kendali pemerintah) terpegang dan terhimpun bersama di tangan yang baru. Karena mungkin butanya, bangsa itu tidak bisa eksis barang seharipun tanpa ada bimbingan. Dan pemegang kekuasaan yang baru bangsa itu hanya cocok di tempat (kuasaan) yang lama yang sudah dilemahkan oleh liberalisme. Masanya bagi kita, kekuatan - pemegang pemerintahan yang telah menggantikan yang adalah liberal - adalah kekuasaan Emas.
Masanya adalah saat mana Kepercayaan (Faith) memerintah. Ide kebebasan adalah mustahil direalisasikan karena tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana menggunakannya dengan moderasi. Hal ini cukup untuk menyerahkan rakyat kepada pemerintahan sendiri untuk suatu jangka waktu tertentu yang untuk itu rakyat berubah menjadi massa yang tidak teratur. Sejak saat itu kita mendapatkan perselisihan yang saling membinasakan, yang segera berkembang ke dalam pertempuran diantara kelas, dimana di tengah-tengahnya negara terbakar dan nilai pentingnya menjadi makin tak berharga bersama setumpuk abu.
Baca di : http://www.biblebelievers.org.au/przion2.htm#PROTOCOL No. 1 .

Minggu, 09 Januari 2011

Mengukur Al-Kitab

Berakar pada Pelanggaran Akhlaq

Terdapat pelanggaran akhlaq yang sangat mendasar dalam hubungannya memperlakukan ajaran Islam,
1.       Tidak mau menjadikan Al-Kitab Al-Qur'an sebagai ukuran/timbangan. Tidak mau kebahagiaan, kemenangan, kejayaan, kemajuan dan keberhasilannya dan sebaliknya diukur dengan ukuran dari Allah yaitu Al-Kitab Al-Qur'an al-karim.
2.       Bukan hanya tidak menjadikan Al-Kitab Al-Qur'an sebagai ukuran/timbangan, bahkan Al-Kitab Al-Qur'an diukur/ditimbang. Mengikuti ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia sekalipun orangnya adalah penekun kitab suci, kemudian dipegangi dan diikuti dengan setia bahkan fanatic sehingga segala sesuatu diukur dengannya. Dengan ajaran, faham, keberagamaan atau ideology beserta berbagai aliran dan madzhabnya yang dibangun inilah kemudian Al-Kitab Al-Qur'an diukur.


Kezhaliman Diri

Akibat dari pelanggaran yang radikal terhadap akhlaq ini adalah umat yang mengaku berkitabsucikan Taurat, berkitabsucikan Injil maupun berkitabsucikan Al-Qur'an menjadi umat-umat yang lebih bersemangat merujuk pada ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia daripada mendengar, membaca, memahami kemudian mentaati Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.
Waspadalah terhadap radikalisme pelanggaran akhlaq kepada Allah dan Al-Kitab-Nya itu

Terhadap pengaruh, pengarahan, tekanan dan pemaksaan untuk menyekutukan Allah atau menyimpang dari ajaran Islam yang tak ada pengetahuan untuk pertanggungjawaban di hadapan Allah maka seseorang muslim diperintahkan Allah untuk mengikuti jalan orang yang kembali kepada Allah. Dalam hal mengikuti jalannya orang yang kembali kepada Allah ini bukanlah untuk melestarikan berkitabsucikan Al-Qur'an tetapi lebih bersemangat merujuk ajaran hasil cipta, karsa dan rasa manusia daripada mendengar, membaca, memahami kemudian mentaati Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. 31/Luqmaan : 15)

Dalam hal mengikuti jalannya orang yang kembali kepada Allah ini bukanlah untuk melestarikan kezhaliman diri bahwa yang mengikuti Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah ditundukkan kepada mengikuti jalan fikiran dan jalan perasaan manusia.

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS.9/At-Taubah : 26)